Dalam menjalin sebuah hubungan, sudah semestinya terjalin suatu ikatan yang didasari oleh saling percaya, saling mengerti, yang pada akhirnya akan saling mendukung satu sama lain. Semakin lama hubungan yang kita jalin, seharusnya bisa semakin membuat kita semakin mengenal bagaimana sifat dan kebiasaan pasangan kita, demikian juga sebaliknya. Bagaimana cara mendukungnya, bagaimana cara menyampaikan sesuatu kepadanya, bagaimana cara memecahkan masalah, dsb.

Akan tetapi, terkadang lama tidaknya suatu hubungan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap suatu pasangan bila sudah berbicara mengenai keegoisan dan rasa gengsi dari salah satu pasangan. Dalam hal ini saya ingin menyoroti dari pihak lelaki, yang biasanya menyanjung prinsip-prinsip hidupnya yang dirasanya paling benar sehingga prinsip tersebut menjadi “pride” yang sangat besar bagi lelaki tersebut. Bisa ditebak, hal tersebut bisa menempatkan posisi suatu hubungan dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Saya ambil contoh, prinsip seorang lelaki yang selalu ingin menjadi yang teratas dalam suatu hubungan, entah dalam hal tingkat pendidikan, penghasilan, dsb. Terkadang dengan prinsip seorang lelaki yang harus “unggul” segala-galanya dibanding pasangannya, tidak bisa membiarkan pasangannya berada dalam posisi yang lebih tinggi.

Misalkan si laki-laki dan wanita memiliki tingkat pendidikan hingga jenjang S2, pada posisi tersebut si laki-laki masih bisa menerima dan hubungan keduanya masih berjalan dengan baik. Akan tetapi, pada suatu saat si wanita berbicara kepada si lelaki bahwa dia ingin melanjutkan studinya hingga S3 dan dan profesor demi mendukung cita-citanya untuk menjadi dosen. Si lelaki ini mulai merasa gundah dan tidak nyaman dengan kondisi tersebut, dia merasa tertekan dan tidak menginginkan kondisi tersebut. Si lelaki berpikir, cukuplah dengan tingkat pendidikan S2 dan tidak harus melanjutkan hingga bergelar profesor. Dengan prinsipnya bahwa seorang lelaki harus selalu berada di atas, si lelaki tetap kukuh dengan pendiriannya, bahkan sebisa mungkin dia mencoba menghalangi pasangannya untuk melanjutkan pendidikannya ke S3. Itu dari sisi tingkat pendidikan. Bukankah itu yang dinamakan egois? Tidak bisa melihat pasangannya mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi darinya.

Si lelaki juga berpikir dengan kemungkinan pasangannya akan mempunyai penghasilan yang lebih tinggi darinya. Si lelaki mencoba berpikir jauh ke depan, dengan berdasarkan apa yang diketahuinya dari keluarganya, bahwa saat seorang suami mempunyai tingkat pendidikan dan penghasilan yang lebih rendah dari istrinya, seorang suami akan merasa tertekan dengan kondisi tersebut. Bukankah itu juga yang dinamakan gengsi? Ketika penghasilan sang istri jauh lebih besar daripada suami. Bukankah lebih baik jika kita mengubah sudut pandangnya menjadi lebih positif. Artinya, penghasilan-penghasilan yang didapatkan baik oleh suami maupun istri itu sama-sama digunakan untuk kepentingan keluarga, membesarkan dan menyekolahkan anak, biaya kesehatan, investasi, dsb. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, tingkat pendidikan yang tinggi itu merupakan karunia dari Tuhan dan sudah seharusnya karunia tersebut disyukuri, bukannya untuk dijadikan sumber konflik.

Di satu sisi, prinsip lelaki tersebut benar adanya, bahwa seorang lelaki harus bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya, dengan seorang suami terus menerus berada di atas dan sang istri hanya bisa mendampingi suaminya ketika menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki kesempatan untuk bisa membantu suaminya dengan lebih baik. Di sisi lainnya, bukankah ketika hidup berumah tangga semua tanggungjawab itu bisa dibicarakan dan ditanggung bersama-sama? Artinya ketika suami maupun istri mempunyai kewajiban dan hak yang sama untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Instrumen yang digunakan bisa bermacam-macam, bisa dengan sama-sama bekerja, artinya kondisi keuangan keluarga tidak bergantung hanya dari satu sumber saja (baca: suami), dsb. Dengan kondisi tersebut, suami tetaplah seorang kepala keluarga, hanya saja istri mendapatkan kesempatan yang sama-sama besar untuk ikut membantu suami di dalam keluarga. Menurut saya, istri akan jauh lebih merasa dihargai ketika istri bisa berbuat sesuatu untuk membantu suami dan keluarganya, dibandingkan jika istri hanya bisa mendampingi suami ketika sang suami sedang dalam keadaan terpuruk dan akan sama-sama bahagia ketika bisa kembali bangkit bersama-sama.

Menurut saya, walaupun seorang istri mempunyai tingkat pendidikan maupun penghasilan yang lebih baik dibandingkan suami, istri tetaplah seorang manusia, yang jauh dari kesempurnaan. Istri tetaplah membutuhkan seorang suami sebagai tempatnya berkeluh kesah, tempatnya berbagi suka dan duka baik pribadi maupun keluarga, tempatnya mendapatkan pengayoman dan perlindungan. Sepasang suami dan istri seharusnya menjadi dua pilar seperti pada sebuah kanopi, keduanya berdiri sama tinggi, saling menguatkan dan menegakkan demi berdirinya kanopi tersebut. Artinya, keduanya harus bisa menanggung beban dan tanggungjawab secara bersama-sama, bukan dengan menuruti ego dan gengsi masing-masing pribadi karena keduanya punya tujuan yang sama, yaitu demi keutuhan dan kebaikan keluarganya (tegaknya kanopi).

Maafkan jika ada salah kata dan tulisan. Tulisan ini hanya sekedar pemikiran pribadi dari seseorang lelaki yang belum menikah, jadi bagi yang sudah menikah, bisa memberi sudut pandang yang lebih baik terhadap pemikiran ini.